Budaya Malu di Jepang




Sebagai salah satu Negara maju di dunia, Jepang tak hanya memiliki etos kerja yang bagus. Negeri Matahari Terbit ini juga memiliki berbagai budaya yang layak untuk ditiru dan dicontoh oleh berbagai bangsa, salah satunya adalah budaya malu di Jepang. Malu dalam hal ini bukan dalam arti rendah diri atau tidak percaya diri, melainkan merasa malu ketika melakukan sebuah aib. Hal ini lah yang disebut-sebut menjadi salah satu faktor yang membuatnya menjadi Negara maju. Budaya malu ini menjadi sebuah karakter bagi banyak masyarakat maupun pejabat di Jepang yang membuatnya menjadi Negara yang disegani.

Budaya malu, atau shame culture sendiri sebenarnya pada dasarnya merupakan budaya orang timur atau Asia termasuk Indonesia. Mungkin Anda pernah mendengar ketika seorang pejabat di Jepang yang memilih melakukan bunuh diri karena ketahuan korupsi. Ya, hal seperti ini lah yang dimaksud dalam budaya malu ini.  Masyarakat Jepang sendiri dikenal sebagai masyarakat yang memiliki karakter kuat dalam menjunjung nilai-nilai nurani. Hal ini sangat berbeda jika kita bandingkan dengan bangsa barat maupun Indonesia sendiri. Dari hal tersebut dapat kita ketahui falsafah hidup orang Jepang yang cukup berbeda dengan bangsa lain.

Dari budaya malu di Jepang yang masih dipegang teguh hingga saat ini, dapat diketahui jika masyarakat Jepang memang memiliki karakter dan falsafah hidup yang sangat kuat. Di mana, falsafah hidup yang dipegang mayarakat Jepang hingga saat ini dikenal dengan nama rinri yang merupakan serapan dari Konfusianisme yang berasal dari China. Di mana, pada intinya dari falsafah tersebut adalah sebagai manusia kita harus berusaha untuk memberikan manfaat terhadap orang lain.

Hal ini diterapkan dan dijunjung tinggi dalam segala hal di kehidupan sehar-hari tak terkecuali dunia birokrasi dan bisnis. Tak heran jika kita lihat bisnis yang dilakukan oleh orang Jepang rata-rata sukses dan berhasil merajai dunia. Meskipun demikian, dengan filsafah yang dipegangnya, sangat jarang kita temui budaya saling sikut dikalangan pebisnis Jepang. Hal ini sangat bertolak belakang dengan budaya bisnis barat yang cenderung kasar dan keras dengan moto time is money.

Sementara itu, jika dipandang dari segi sosial budaya malu di Jepang memiliki dua sisi positif dan juga negatif. Pasalnya, budaya malu tersebut menjadi salah satu pemicu tingginya angka bunuh diri di Jepang. Namun demikian, budaya malu tersebut pun memiliki sisi positif seperti yang sudah disampaikan di atas. Lantas, apakah budaya malu yang ada di Jepang ini juga sesuai dengan di Indonesia?

Di Indonesia sendiri sebenarnya telah memiliki akar budaya yang kuat yakni tata krama dan sopan santun dan kejujuran. Sayangnya, hal ini saat ini seolah mulai pudar seiring masuknya budaya hedonisme dan egoisme dengan perkembangan jaman. Banyak orang Indonesia yang sudah kehilangan jati dirinya yang membuatnya melakukan berbagai hal yang bertentangan dengan akar budaya nenek moyang.

 





This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *